Jangan Munafik, Ini Bukan Sekadar Perkara Siapa Pelaku Catcalling

sumber: Rappler

[Balasan tulisan atas salah satu artikel Catcalling untuk Mojok (namun tidak tayang) bisa di baca di bagian bawah]

Tanggal 10 Agustus dini hari (sekitar pukul 02.00), saya membaca status mas Adik Christians Hartono, yang terdapat sebuah artikel berjudul “Jangan Munafik, Bukan Perkara Catcalling-nya Tapi Siapa Pelakunya”. Saya kaget, perasaan saya campur aduk dan adrenalin saya terpacu untuk membuat balasan tulisan tersebut.

Bagaimana tidak, saya adalah salah satu korban catcalling, sampai kenyang karena sering mengalami. Namun setelah melewati banyak sekali ketakutan, akhirnya saya berani untuk melawan balik. Entah melotot marah (padahal secara anatomis mata gw sipit), ngomong baik-baik “mau nggak lu kalau adik cewe lu di-gitu-in sama orang”, atau langsung bentak “heh lu kira gw senang lu suit-suitin kayak gitu, sampah lu!”, atau langsung mengaum “ta*k lu” (kalau yang ini sih saya sudah standby buat lari )

Segeralah saya menulis, terburu-buru pastinya. Artikel selesai jam 7 pagi (saya nggak tidur lho), dan submit tulisan ke Mojok.co. Waktunya tidur.

Ketika terbangun hingga malam hari artikel saya tidak tayang. Ya iyyalah, siapa saya, hanya korban catcalling. Yang tayang ketika itu sebuah artikel balasan ini. Oke, saya senang ada yang membalas tulisan ini meskipun laki-laki yang membicarakan korban catcalling. Bagus, tapi… #ketawareceh

Dan akhirnya permintaan maaf dari Mojok ini tayang.

Baiklah, saya juga tidak memperpanjang kontroversi ini. Tapi saya ingin membagikan tulisan yang saya serahkan ke Mojok, meskipun tulisan ini kayak “diburu setan”. Harapan saya, semoga rekan-rekan Mojok yang telah membaca tulisan receh saya dan mendapatkan pengetahuan lagi (amiiin) dari perempuan yang menjadi korban catcalling, seperti artikel yang pernah tayang di Mojok .

 

JANGAN MUNAFIK, INI BUKAN SEKADAR PERKARA SIAPA PELAKU CATCALLING

 

Mau kenal apa nggak sama pelaku, catcalling adalah pelecehan!

Semakin ke sini, pikiran manusia-manusia Indonesia makin canggih saja. Begitu canggihnya hingga soal-soal pelecehan di kerdil-kerdilin kayak bonsai. Salah satunya adalah perkara menggoda melecehkan orang lain. Tidak hanya di jalanan, tetapi juga di dunia digital. Sabar, kalau sempat daku akan tuliskan apa dan bagaimana pelecehan di dunia digital.

Sekarang, daku mau cuap-cuap dulu tentang pelecehan di jalanan. Salah satu bentuk pelecehan yang paling sering terjadi adalah catcalling. Misalnya seperti:

“Suit…suit…”

“Mau ke mana, Dek? Sendirian aja? Ayo abang anterin.”

“Hai, Neng. Ih, neng cakep deh. Boleh kenalan nggak?”

“Hati-hati jalan sendirian, Neng. Mending abang temenin aja.”

Si perempuan tidak menanggapi dan berlalu

“Halah sok kecakepan lu”

“Sombong banget sih jadi cewek”

“Huuuu…Gendut aja belagu”

Terus terang daku merasa perlu menuliskan ini setelah membaca artikel yang ditulis oleh dikau Abul Muamar “Jangan Munafik, Bukan Perkara Catcalling-nya Tapi Siapa Pelakunya” yang tayang 9 Agustus kemarin banget. Bagi daku, opini dikau itu benar-benar cat(astrophy) tapi salah call (ibration) banget dech. Uhuk!

“Sepengalaman hidup saya, mau laki-laki maupun perempuan, pada dasarnya senang belaka ketika digodai—atau di-catcalling-in. Kalau pun ada yang merasa risi apalagi takut, saya yakin jumlahnya tak banyak. Ya, cuma segelintir orang saja saya kira. Mereka biasanya adalah orang-orang yang trauma, ataupun orang-orang yang tak punya kepercayaan diri ataupun ketangkasan dalam menghadapi para penggoda picisan.” (Abul, 2019)

Sepengalaman daku menjalani hidup, baik perempuan dan laki-laki pada dasarnya tidak senang jika mendapat pelecehan seksual di jalanan. Daku mendapati banyak sekali perempuan yang tidak nyaman, takut dan trauma ketika mengalami catcalling, tapi sebagian memang memilih untuk cuek dan tidak melaporkan kasus ini. Tapi kalau mau rajin sih, dikau bisa cari dan baca kesaksian korban. Iqra, Bul.

“What? Catcalling itu pelecehan seksual?”

Ah, Abul pura-pura nih, masa nggak tau kalau catcalling itu pelecehan seksual. Bahkan pelecehan seksual itu merupakan salah satu bentuk kekerasan seksual. Iqra, Bul (2). Main sini ke rumah daku. Daku punya teman, sahabat, saudara perempuan yang pernah beberapa kali pernah menjadi korban catcall. Apa yang dirasakannya? Marah pengen nonjok si catcaller Bul. Tapi apa daya, catcaller-nya gerombolan sih. Kalah jumlah Bul, bahkan malaikat juga tahu siapa yang menang kalau dikeroyokin tanpa ilmu bela diri buat nangkis serangan Gorgom itu.

Eh, tapi daku tetap mendoakan semoga keluarga atau saudara perempuan dikau tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi korban catcalling ya. Amiiinnn. Percayalah Bul, daku berdoa dengan tulus dari lubuk hati daku yang paling dalam. Biar nggak makin banyak perempuan yang jadi korban.

“Ya itu bukan cuek, memang mereka senang kok. Buktinya mereka nggak melawan. Itu artinya mereka tak punya kepercayaan diri ataupun ketangkasan dalam menghadapi para penggoda picisan”. (Abul, 2019)

Tahu dari mana mereka senang Bul? Karena mereka melirik-lirik sambil senyum-senyum lalu mendatangi pelaku dan ngajakin candle light dinner di warteg? Atau karena korban diam aja dan terus berlalu? Kalau korban bersuara, yang terjadi biasanya penghakiman Bul. Istilah Baratnya victim blaming. Siapa suruh jam segitu masih di jalanan? Siapa suruh keluyuran sendirian, Siapa suruh lewat situ? Ah baru disuitin, belum juga diapa-apain dek.

“Dulu, kebiasaan men-suit-suit itu tak pernah kita persoalkan.” (Abul, 2019)

Ya iyyalah. Subordinasi perempuan itu buah busuk itu yang udah dihasilkan patriarki beratus tahun lalu. Trus mau menyalahkan korban? Please dech! Otak jangan ditinggal di jaman baheula. Pantas aja karatan.

Berterima kasihlah dikau pada perkembangan ilmu pengetahuan, terutama tentang kemanusiaan. Kekerasan tetaplah kekerasan. Mau kata dikau segelintir kek, seuprit kek, sebiji kek. Salut buat yang sudah punya kesadaran. Yang belum sadar, ayo tingkatkan kualitas diri!

“Tidak semua pandangan atau hasil penelitian yang berasal dari Barat itu cocok untuk diterapkan di sini. Contohnya mempersoalkan orang suit-suit ini. Di Barat sana ia mungkin pas untuk dipermasalahkan mengingat orang-orang sana terbiasa hidup secara individualistis dan karenanya mereka akan terganggu kalau ada orang yang melakukan tindakan catcalling.” (Abul, 2019)

Daku minta referensi ilmiah, pandangan siapa, hasil penelitian siapa. Iqra, Bul (3). Bahkan beberapa negara sudah membuat aturan sanksi bagi pelaku catcalling.  Itu artinya mereka sadar dan paham bahwa catcalling adalah tindak kekerasan pada perempuan, tidak ada urusannya dengan individualisme. Beberapa artikel dan hasil penelitian daku tentang kekerasan seksual, kasusnya terjadi di Indonesia lho. Ngok! Lagian juga ilmu pengetahuan modern itu berkembang lebih dulu di Barat, bukan di Indonesia. Baca deh sejarah peradaban dunia. Nggak usah pakai referensi dari Barat, dikau cukup pinjam saja buku Sejarah kelas X.

“Kiranya jangan kita berkoar-koar soal kesetaraan gender, tapi mengabaikan fakta biologis naluriah bahwa cowok dan cewek punya nafsu yang sama, dan nafsu itu antara lain turunannya adalah sama-sama senang bila digoda oleh lawan jenis dan sama-sama senang melihat lawan jenis yang bening-bening.” (Abul, 2019)

Berasa dengerin lagu Iwan Fals.

Siapa yang senang melihat lawan jenis yang bening-bening?

“Daku..daku. Daku mah hanya sebatas mengagumi ciptaan Tuhan. Lebih dari itu, tidak!”

Siapa yang senang digoda dilecehkan oleh lawan jenis?

Hening…

“Poinnya, yang jadi masalah bukan catcalling-nya, bukan suit-suitannya, melainkan siapa pelaku catcalling-nya dan seperti apa tampangnya. (Abul, 2019)

Ciecieee, dikau sudah baca teori feminisme apa saja? Sepertinya dikau memang gagal mencernanya dengan baik. Makanya dikau masih patriarkis dan seksis begini. Kalau catcaller-nya tetangga kita, sepupu kita, teman baik kita, harusnya kita lebih marah. Tapi, disinilah ketidaknormalan (baca: permisif-nya) dikau. Kekerasan seksual itu bisa dilakukan oleh siapa saja, di mana saja dan kapan saja, tidak peduli mau cakep apa nggak, kenal atau nggak. Iqra, Bul (4)

Jangan kayak hidup di zaman jahiliah, Bul. Catcalling bukan hanya soal siapa pelakunya, tapi bagaimana cara pandang yang menempatkan perempuan (dan juga laki-laki) sebagai objek seksual. Catcalling adalah wujud penundukan seksualitas dan itu seksisme!

Daku sarankan, dikau sebagai orang yang berpengetahuan, kalau baca situasi jangan lihat dari kulitnya saja, apalagi sampai dikau menelannya bulat-bulat dan mengambil kesimpulan bahwa catcalling di negara Indonesia adalah hal yang wajar. Ini sungguh menyakitkan. Jadi nggak usah daku yang main ke kampung dikau di Sumatera Utara. Karena patriarki dan seksisme itu ada di mana-mana. Termasuk di dalam diri dikau. Upsss. Yang setuju angkat gelasnya!

Dari saya, salah satu dari sekian banyak perempuan yang menjadi korban catcalling.

Sebarkan...

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *