Melihat Perjuangan Feminisme Dalam Bingkai Keberagaman Gender

Sumber: Pixabay

 

 

Feminisme saya maknai sebagai gerakan perlawanan atas penindasan yang dialami oleh perempuan. Dalam perjalanan sejarah gerakan feminisme hingga feminisme gelombang ketiga, telah melahirkan berbagai aliran. Aliran-aliran feminisme ini mencoba memahami dan menjelaskan akar penindasan perempuan. Kesimpulan yang saya dapati, aliran-aliran feminisme ini menyatakan penindasan perempuan terjadi karena ketidakadilan gender dan seksualitas, serta relasi kuasa baik secara budaya (patriarki) maupun ekonomi politik (penindasan klas).

Namun, ada yang agak rancu ketika ketidakadilan gender hanya ditarik menjadi problem pokok perempuan secara biologis. Penindasan terhadap perempuan sangat jelas terlihat ketika perempuan memilih identitas gender, ekspresi gender dan orientasi seksualnya atau yang kita kenal dengan istilah “keberagaman gender” (SOGIE). Ketika budaya di Indonesia yang memiliki keberagaman gender ini dilarang bahkan bisa dipidanakan, disitulah keberpihakan para feminis dipertanyakan.

Gender tidak melulu berbicara soal equity, tetapi lebih pada equality. Beberapa feminis mengartikan perjuangannya dalam satu dimensi: kesetaraan perempuan secara biologis. Bagi saya, ini  sangat bias gender.  Inilah tantangan sebenarnya bagi gerakan feminis. Para feminis yang menolak merangkul perempuan dengan keberagaman gendernya, sebaiknya memperbaiki kembali pemahaman tentang gender dan seksualitas. Feminisme gelombang ketiga telah memulainya sejak 1990an dan masih menjadi perdebatan keras hingga saat ini.

Frederich Engels dalam bukunya Asal Usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi dan Negara (2011, hal xxxii) juga telah menjelaskan bentuk-bentuk penindasan perempuan. Engels mengatakan:

“eksploitasi kelas dan penindasan seksual lahir bersamaan dengan tujuan melayani kepentingan sistem kepemilikan pribadi”. (hal xxxii)

Sangat jelas Engels berusaha memahamkan kita bahwa penindasan terhadap perempuan bukanlah menjadikan laki-laki sebagai akar penindasannya. Penindasan kelas, dimana seksisme telah merasuk kuat di dalamnya adalah akarnya. Ini artinya, perjuangan feminisme bukanlah hanya menjadikan perempuan secara biologi menjadi subjek yang tertindas dan harus melawan, melainkan juga perempuan dengan keberagaman gender yang dipilihnya.

Di Indonesia, masih sangat sedikit organisasi atau feminis (secara individu) yang juga melakukan perlawanan atas penindasan berbasis gender. Kalaupun ada, kebanyakan terjadi pada ruang-ruang diskusi, kampanye-kampanye di media atau kecaman-kecaman atas kasus kekerasan dengan membuat dan menyebarkan petisi online, atau melakukan seremonial tabur bunga atau menyalakan lilin ketika terjadi kasus kekerasan. Saya tidak menganggap ini adalah tindakan yang keliru. Dan sepertinya, feminisme di Indonesia adalah feminisme yang eksklusif dan hanya menjadi konsumsi kelas menengah saja; membumbung dari atas tapi tidak sampai ke bawah. Akhirnya, gerakan ini tidak pernah menyentuh akar penindasan yang dialami.

Sementara, terkotak-kotaknya feminisme di Indonesia justru membawa kemunduran bagi gerakan feminisme itu sendiri. Saya kira, keberagaman gender telah menjadi nafas bagi perjuangan feminism. Perempuan dengan sendirinya menjadi subjek yang plural, yang akhirnya menjadi penentu utama kemana arah perjuangan feminisme ke depan.

Tentunya, ladang pertempuran untuk para feminis ada di akar rumput. Disanalah perempuan dengan keberagaman gendernya mengalami penindasan yang sebenarnya. Bentuklah komunitas-komunitas disana, buatlah pendidikan atau sekolah-sekolah agar mereka paham tentang apa dan bagaimana perjuangan yang sesungguhnya, serta mengajak mereka untuk bicara menyebarluaskan perjuangan. Dengan demikian, feminisme bukan lagi teori yang mengawang-awang. Disanalah ia seharusnya berpijak, membumikan dirinya pada massa rakyat tertindas.

Sebarkan...

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *