Organisasi PRT Sedapmalam Itu Tumbuh

 

Tanggal 1 November 2018, Organisasi Pekerja Rumah Tangga (Operata) Sedapmalam telah menginjak usia yang ke tiga. Sebagai organisasi yang dibangun oleh Pekerja Rumah Tangga (PRT) di wilayah Tebet dan sekitarnya, Operata Sedapmalam masih terhitung sebagai organisasi PRT baru. Mirip seperti bayi usia dua tahun, Sedapmalam baru mulai bisa berjalan, kadang-kadang berlari meskipun sering terjatuh karena keseimbangan yang belum begitu baik.

Ada rasa senang melihat proses yang mereka jalani. Selama dua tahun ini, saya banyak belajar dari perjuangan hidup mereka. Dari kampung, mereka membawa harapan hidup lebih baik ke Jakarta. Mereka giat mencari pekerjaan yang sekiranya bisa untuk menghidupi keluarga dalam perantauan. Begitu mendapatkan pekerjaan menjadi PRT, mereka bekerja dan mulai membangun mimpi kesejahteraan. Bangun pagi buta dan kadang baru terlelap di tengah malam. Bekerja dari satu majikan ke majikan lain dengan upah yang rendah, waktu kerja yang panjang, beban kerja yang berat , kadang sampai tidak ada libur dalam seminggu dan tidak ada jaminan kesehatan. Bahkan ada yang mengalami kekerasan dari majikan. Makin lama, mimpi kesejahteraan yang mereka bangun makin jauh, sehingga yang tersisa hanyalah kepasrahan.

Namun, beberapa PRT tidak ingin hanya pasrah. Membangun mimpi kesejahteraan tidak bisa dipupus begitu saja. Mereka ingin ada perubahan dalam hidup mereka. Sejak Mitra Imadei menugaskan saya mengorganisir, saya mulai mencari keberadaan mereka. Begitu saya bertemu dengan beberapa diantara mereka, semangat mewujudkan mimpi yang telah mereka bangun mulai tumbuh. Terus dan perlahan semangat ini menular ke PRT lain hingga akhirnya mereka bersepakat membuat sebuah organisasi yang dinamakan Operata Sedapmalam.

Dinamika yang terjadi dalam pengorganisiran dan pengorganisasian PRT hingga terbentuknya Operata Sedapmalam, menjadi tantangan terbesar buat saya. Berbagai konflik internal, kemalasan (baca: kesadaran yang belum muncul) mengikuti kegiatan organisasi bahkan keluar masuknya anggota seringkali terjadi. Selain itu, menularkan semangat berjuang dari anggota kepada anggota lain juga masih menjadi tantangan terbesar bagi mereka. Begitu sulitnya mereka mengajak anggota untuk aktif berorganisasi. Seperti ingus, ditarik masuk tapi keluar perlahan-lahan.

Atas dorongan terus-menerus, Sedapmalam mulai menemukan marwah gerakannya. Mengorganisir sesama PRT, menjadwalkan kegiatan, berjaringan, kampanye dan advokasi mulai berjalan. Sedikit demi sedikit mereka mulai menyadari bahwa kapasitas mereka sebagai manusia adalah sama, dan posisi mereka sebagai pekerja juga sama dengan yang lainnya. Disinilah saya menikmati berproses bersama mereka. Dan saya pun akhirnya menyadari bahwa tidak ada batasan antara saya dan mereka. Saya dan mereka adalah sama.

Kendala terbesar yang mereka hadapi dalam membangun organisasi adalah memperbanyak anggota dan membayar iuran. Anggota baru yang bersetuju masuk organisasi, hanya datang sekali dua kali pertemuan. Selanjutnya, hanya tinggal nama alias tidak muncul lagi mengikuti kegiatan organisasi. Begitupun dengan iuran. Besarnya iuran yang mereka sepakati adalah Rp 10.000 per bulan atau kalau dicicil hanya Rp 2.500 per minggu. Ini pun mereka sulit sekali mau membayar iuran. Padahal, iuran adalah modal finansial awal untuk mengembangkan organisasi. Kalau ditanya, apakah Rp 2.500 per minggu memberatkan mereka? Mereka menjawab tidak. Tetapi begitu ditagih, yang keluar hanya ucapan tar-sok (ntar besok). Akhirnya, di buku kas hanya tinggal nama saja, tapi kolom pembayaran iuran kosong melompong.  Apalagi kalau melihat laporan keuangan mereka, uang kas hanya di angka itu-itu saja. Disitu kadang saya merasa sedih

Dibalik kendala itu saya melihat mereka tetap optimis. Mereka terus berupaya mendorong perubahan terwujud. Sebagian kecil dari anggota tetap aktif membangun Sedapmalam menjadi semakin kuat, besar dan mapan. Memang, optimisme ini belum tentu bisa bertahan dalam perjalanan organisasi selanjutnya. Tetapi, melihat keaktifan dari sedikit anggota tersebut hingga saat ini, membuat saya menaruh harapan besar kepada mereka; harapan untuk terus berjuang dan melawan bersama-sama mereka.

Bagi saya, dua tahun dengan hasil yang sudah sejauh ini mereka capai, cukup membuat saya tersenyum manis. Pasti masih banyak kekurangan dan kelemahan di sana-sini. Dengan terus berproses, kekurangan dan kelemahan ini sedikit demi sedikit berubah menjadi kekuatan. Mereka sudah harus mampu mengenali dan memahami penindasan terhadap diri mereka, baik sebagai perempuan, sebagai pekerja dan sebagai warga negara. Dengan demikian, keteguhan dalam berjuang sudah tidak dapat digoyahkan lagi.

Sudah tiba waktunya mereka memimpin dan menjalankan roda organisasi secara mandiri. Harapan saya, suatu saat merekalah yang akan menjadi perempuan yang memimpin perjuangan untuk mewujudkan kerja layak dan hidup layak bersama PRT lainnya.

Semoga….

Sebarkan...

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *