Filsafat Pendidikan; Sebuah Ajakan Berpikir*

Filsafat, yang menjadi induk dari segala ilmu pengetahuan, secara konseptual adalah awal untuk menguji teori dan praktik. Subjek filsafat adalah manusia dengan segala interaksinya. Manusia tidak berdiri tunggal, melainkan terkoneksi dengan alam sekitar yang merangsang daya pikir dan daya tindak. Dengan demikian, filsafat mengajak manusia untuk berpikir dan menggali secara radikal (kritis dan ilmiah) setiap fenomena yang terjadi, untuk kemudian diramu menjadi sebuah analisa/konsep dan mempraktikkannya dalam kehidupan.

Perkembangan ilmu pengetahuan dari filsafat makin kesini makin menunjukkan betapa filsafat terkait erat dengan konteks masyarakat. Dulu, filsafat hanya berpijak pada ke-diri-an (individualisme), maka masa pertengahan hingga sekarang, filsafat berpijak pada kolektivitas. Oleh karena itu, filsafat menghendaki adanya kebaruan dalam ilmu pengetahuan itu sendiri. Tujuannya adalah untuk membawa kejelasan pada gagasan, untuk menguji koherensi teori dan praktek sesuai dengan konteksnya.

Filsafat pendidikan merupakan bagian yang integral sekaligus diferensial dari filsafat. Filsafat pendidikan yang berkembang saat ini adalah hasil dari revolusi dalam filsafat itu sendiri. Filsafat pendidikan sebagian besar terdiri dari komentar kritis pada teori pendidikan dan bahwa teori pendidikan itu sendiri dari berbagai lingkup dan kompleks, mulai dari teori-teori sederhana tentang pengajaran untuk teori berskala besar yang terkait dengan konteks sosial, ekonomi, politik dan  budaya.

Filsafat berperan dalam memunculkan analisa kritis terhadap pendidikan itu sendiri. Misalnya, kita memilih kuliah di institut A jurusan A’, karena kita berharap masa depan kita akan lebih sejahtera (mapan, nyaman dan aman). Akan tetapi setelah kita lulus kuliah justru harapan kita masih sangat jauh dijangkau. Dari fenomena ini, kita dapat menganalisa apa yang menjadi penyebab, situasi dan kondisi apa yang mengiringi dan apa yang harus dilakukan. Contoh lain: setiap orang perlu mengenyam pendidikan sebagai bekal kehidupan, maka yang harus dilakukan adalah mempraksiskan pendidikan melalui kegiatan belajar mengajar di sekolah. Namun penting memperjelas apakah yang dilakukan di sekolah itu ‘mendikte’, ‘mengajar’, ‘mendidik’, atau ‘doktrin’.

Teori bahwa guru harus memastikan bahwa setiap materi baru yang diperkenalkan kepada murid harus dikaitkan dengan apa yang sudah dia ketahui, atau bahwa seorang anak tidak boleh diberitahu fakta sebelum dia memiliki kesempatan untuk menemukannya sendiri. Teori yang terbatas seperti ini mungkin lebih baik disebut teori pengajaran, atau teori pedagogis. Teori-teori lain semacam ini lebih luas cakupannya dan lebih kompleks, seperti teori bahwa pendidikan harus mempromosikan pengembangan potensi bawaan murid, atau bahwa ia harus mempersiapkan dirinya untuk bekerja, atau menjadi warga negara yang baik atau pemimpin yang baik. Teori-teori seperti ini dapat disebut ‘teori umum pendidikan’ karena mereka memberikan resep yang komprehensif, merekomendasikan produksi tipe orang tertentu dan -sangat sering- suatu jenis masyarakat tertentu. Jenis-jenis teori pendidikan ini sering kita dapati dalam tulisan-tulisan mereka yang dikenal sebagai filsuf. Plato, misalnya, memberikan teori pendidikan umum dalam dialog yang dikenal sebagai Republik ( The Republic), di mana tujuannya adalah untuk merekomendasikan jenis manusia tertentu yang layak untuk menjadi penguasa dari jenis masyarakat yang khas.

Filsafat pendidikan tidak akan berguna ketika tidak dikonkretkan menjadi praksis dalam kehidupan. Para filsuf/ pemikir pendidikan merangkum pengetahuannya dan mengujinya. Inilah yang dilakukan sebagian dari para pemikir pendidikan. Lebih lanjut, jika makin kesini filsafat berpijak pada kolektivisme, maka akan sangat berkait erat dengan pertanyaan: apa peran dan fungsi pendidikan dalam masyarakat? Bagaimana seharusnya pendidikan itu? Apa tujuannya? Apa yang harus diajarkan? Mengapa perlu diajarkann? Bagaimana metode pengajarannya? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang muncul secara terus menerus.

Pendidikan adalah cara yang paling efektif, atau satu-satunya cara untuk memunculkan hasrat manusia, mengubah mereka dari manusia setengah hewan menjadi manusia seutuhnya, atau memungkinkan manusia untuk menyadari potensi intelektualnya. Atau, seperti yang dikatakan oleh Nelson Mandela;  pendidikan adalah senjata pamungkas untuk mengubah dunia.

Orang yang berpendidikan akan menjadi orang yang kemampuan intelektualnya telah dikembangkan, yang peka terhadap masalah-masalah moral dan estetika, yang dapat menghargai sifat dan kekuatan pemikiran sistematis dan ilmiah, yang dapat melihat dunia dari perspektif sejarah dan geografis.  Selain itu, memiliki perhatian terhadap pentingnya kebenaran, akurasi, dan struktur berpikir.

Bagi Plato misalnya, orang yang berpendidikan adalah seorang yang terlatih dalam disiplin matematis dan filosofis, sadar akan realitas sejati dan mampu dan berkeinginan untuk bertindak sebagai penjaga dan penguasa negara. Bagi Herbert Spencer, yang hidup di zaman dan masyarakat yang sangat berbeda dari Plato, orang yang berpendidikan adalah orang yang telah memperoleh pengetahuan dan pengembangan intelektual yang cukup untuk memungkinkan dia untuk mendukung dirinya dalam masyarakat industri dan komersial, untuk membesarkan dan mendukung keluarga, untuk menjadi bagian dari warga negara dalam masyarakat dan memanfaatkan waktu luangnya dengan bijaksana.. James Mill, Thomas Arnold, Cardinal Newman dan John Dewey, Ki Hajar Dewantara, Tan Malaka, Paulo Freire, masing-masing merumuskan gagasan yang berbeda tentang apa yang akan dianggap sebagai orang yang berpendidikan.

Sering diperdebatkan, bahwa pendidikan harus bertujuan menghasilkan masyarakat yang adil dan setara, bahwa harus ada kesetaraan dalam pendidikan dan setiap orang mendapatkan kesempatan yang sama dalam pendidikan. Ada perdebatan lain bahwa pendidikan harus diarahkan pada pembentukan atau penyajian cara hidup demokratis, dan bahwa untuk tujuan ini pendidikan harus bersifat ‘demokratis.

Posisi “apa yang seharusnya dilakukan melalui pendidikan” dapat kita lihat dalam pemikiran Ki Hajar Dewantara. Pendidikan yang humanis menurut Ki Hajar Dewantara menekankan pentingnya pelestarian eksistensi manusia, dalam arti membantu manusia lebih manusiawi, lebih berbudaya, sebagai manusia yang utuh berkembang (menyangkut daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif)). Educate the head, the heart, and the hand.

Lalu, bagaimana dengan pendidikan di Indonesia masa kini? Apa yang sebenarnya terjadi?

Mari, kita pikirkan bersama!

 “Setiap orang berbicara tentang perdamaian, tapi tidak ada seorang pun yang mendidik untuk perdamaian. Kita diajarkan untuk berkompetisi, dan kompetisi adalah awal dari perang. Ketika kita mendidik orang untuk bekerja sama dan bersolidaritas, maka itu adalah awal dari perdamaian.” Maria Montessori

 

*Disampaikan pada acara “CABANG” (Curhat Bareng) BEM Institut Bisnis dan Informatika Kosgoro 57 tanggal 14 April 2018.

 

Sebarkan...

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *