Jangan Mau Terjebak Media Daring

 

 

Kemarin siang ketika membuka akun facebook saya, salah satu pemberitahuan muncul. Pemberitahuan tersebut mengantarkan saya ke salah satu grup dimana saya bergabung. Grup tersebut ramai dengan tanggapan atas sebuah berita dari salah satu media daring yang cukup besar .  Berita yang dimuat di detik.com tersebut membuat saya bertanya-tanya apa benar narasumber yang juga aktivis LGBT tersebut mengeluarkan pernyataan seperti yang tertulis di judul berita. Ini beritanya (http://m.detik.com/news/berita/3280053/aktivis-lgbt-kalian-yang-normal-dipaksa-jadi-homo-apa-mau)

Kalau kita lihat judul berita terlebih lagi membaca isinya, tentu siapapun yang punya pemahaman mengenai LGBT akan kecewa dan atau marah karena narasumber tersebut masih memakai kata “normal” bukan heteroseksual.  Dan itu berarti bahwa aktivis tersebut menyatakan bahwa LGBT itu tidak normal. Tapi, apakah benar itu pernyataan narasumber atau ada kemungkinan dari detik.com yang membuat kesalahan?

Emm, detik.com? Wah keraguan saya muncul.  Saya lalu menghubungi seorang kawan yang hadir di diskusi tersebut dan menanyakan apakah benar narasumber tersebut mengatakan hal demikian. Kawan saya menjawab bahwa tidak ada satupun kata “normal” yang keluar dari mulut narasumber tersebut. Yang ada kata “cisgender” * Dan benar, setelah kroscek, ada bukti yang membuat kita semua mengakui bahwa kesalahan ada di detik.com. Rekaman diskusi tersebut yang memperlihatkan dan memperdengarkan pada kita semua bahwa narasumber tidak pernah menggunakan kata “normal”. Ini dia buktinya https://youtu.be/UTcp4506Dpc

Apakah ini adalah masalah? Ya tentu saja masalah. Orang-orang menjustifikasi langsung tanpa mengecek kebenaran berita tersebut. Jadinya berita tersebut berhasil menarik kita pada kesimpulan yang salah, mengadu domba kita para pembacanya dan kita juga ikut melahapnya dengan tidak menganalisa lebih dalam atas sebuah berita. Ini masalah pertama. Masalah kedua adalah media daring. Saya bukanlah pengamat media. Tapi saya ragu dengan kredibilitas beberapa media daring, salah satunya detik.com. Kenapa saya ragu? Karena beberapa kali media ini memelintir isi berita maupun pernyataan narasumbernya.

Masyarakat awam yang hanya melihat dari judul saja tapi malas membaca isi beritanya jadi terstigma bahwa ya memang homoseksual itu tidak normal.  Inilah stigma yang dibentuk oleh media, membangun opini publik yang sesat dan menggiring keberpihakan masyarakat pada dominasi mayoritas. Pastinya hal ini mengkerdilkan suara dan posisi kelompok yang selama ini termarjinalkan. Bahayanya, media juga menjadi penebar ungkapan kebencian (hatespeech) terhadap kelompok tertentu yang bisa menyulut konflik lebih luas.

Memang, di era digital sekarang ini peran media daring sekarang ini sangatlah besar. Selain bisa diakses secara cepat, media daring juga bisa membuat rasa penasaran orang menjadi besar. Terprovokasi dengan judul berita, buru-burulah kita membuka berita itu. Beritanya menarik? Segeralah dibagikan ke media sosial. Dengan cepat sebuah berita menyebar kemana-mana. Disitulah kemenangan media. Soal kroscek? Itu urusan nanti, yang penting sebar dulu. Makanya jangan heran jika hoax menjamur di linimasa kita.

Bagaimana soal memuat berita dengan menampilkan kedua sisi yang berimbang? Pewarta media daring sekarang ini sangat jarang melakukannya. Media daring saat ini sepertinya sedang berlomba menaikkan berita dengan cepat. Semakin cepat berita naik, maka semakin berkibarlah nama medianya di jagad per-daring-an. Padahal, dalam Kode Etik Jurnalisme jelas-jelas menyatakan bahwa pewarta harus independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang dan tidak beritikad buruk, tidak menulis berita atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang.

Artinya, keberpihakan media daring terhadap kemanusiaan, kebenaran dan keadilan sudah pasti dipertanyakan. Kenapa demikian? Karena kebanyakan media sudah menjalankan politik praktis. Kita lihat contohnya pada Pilpres 2014 kemarin dimana beberapa media daring gencar mengangkat berita salah satu Capres, atau semisal pada reshuffle kabinet kemarin. Kalau sudah terjadi demikian, maka Kode Etik Jurnalisme menjadi tidak berlaku lagi.

Saya juga teringat ketika menghadiri sebuah diskusi terbatas Peran Serta Jurnalis dalam Toleransi berbasis Keberagaman Gender dan Seksualitas yang diselenggarakan oleh Kemitraan pada 8 Agustus lalu.  Salah satu materi yang dipaparkan oleh Yosep ‘Stanley’ Adi Prasetyo (Dewan Pers) adalah sebuah pertanyaan “Mengapa media kerap bias?” Beberapa jawabannya yaitu ada hegemoni kekuasaan yang kuat, kepentingan pemilik media, ketidaktahuan akan isu dalam berita yang diangkat sehingga memunculkan ketidakpedulian, industrialisasi media dan kepentingan pribadi pewarta itu sendiri.

Ketidakcermatan kita dalam membaca dan menyebarkan berita dari media daring, membuat kita ikut terjerumus pada kesesatan. Karena itu, jangan mau terjebak pada pusaran kepentingan dan kekuasaan yang dibawa oleh media. Corong kapitalisme ada pada media (mainstream). Jadi, kitalah harus memutuskan apakah kita akan berpihak pada kebenaran atau membungkam kebenaran itu sendiri.

Terakhir, saya ingin mengutip ini : “Modal dan kepentingan membuat media sulit berubah. Karena itulah yang punya peran lebih besar justru para pembaca dan peminat media itu sendiri. Karena mereka punya kekuatan untuk mendesak media agar mau berubah.” (Jurnal Perempuan, 2010, Apa Kabar Media Kita, Jakarta, Yayasan Jurnal Perempuan)

*Cisgender: digunakan untuk orang yang gendernya sesuai dengan yang diberikan waktu lahir; non-transgender.

Sebarkan...

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *